Kisah inspiratif tentang pak Bernardus Prasodjo ( yg melukis keluarga di kaleng Khong Guan )


Kisah inspiratif tentang pak Bernardus Prasodjo ( yg melukis keluarga di kaleng Khong Guan )

Cek kisahnya :

Saya ini dulu tukang gambar. Kalau sekarang bahasa kerennya, graphic designer.

Suka gambar dari kecil, lalu masuk Fakultas Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kuliah cuma dua tahun, karena sering bolos dan terlalu asyik ngerjain order-an.

Saat kuliah di ITB saya sewa kost di jalan Lekong Kecil, tak jauh dari kantor redaksi majalah Aktuil; jadi saya sering main dan nongkrong di situ. Lalu, saya sempat bikin komik strip untuk Aktuil.

Dari Bandung saya pindah ke daerah Roxy, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di dekat situ, tepatnya di jalan Biak, ada perusahaan separasi warna. Tahu saya bisa menggambar, mereka sering kasih kerjaan ke saya.

Perusahaan separasi warna itu juga yang memberi saya kerjaan ilustrasi untuk kaleng biskuit Khong Guan, lupa tahun berapa, yang jelas saat itu usia saya 24 tahun. (Usia Bernardus kini 66 tahun, artinya saat itu sekitar 1971, tepat saat Khong Guan Merah mulai diproduksi di Indonesia -red)

Ide gambarnya bukan dari saya. Pokoknya saya dikasih contoh gambar (seorang ibu dan dua anak duduk memutari meja) tidak berwarna di kertas yang sudah lecek. Ya sudah saya hanya mengubah gambar itu seperlunya, dan mewarnainya sesuai pesanan.

Sejak itu saya mulai sering mendapat pesanan menggambar di kemasan, seperti wafer Nissin, sampai kemasan produk-produk CV Hero jaman dulu seperti agar-agar dan sirop.

Semua gambar itu saya bikin menggunakan cat air merek Guitar, di atas kertas gambar yang sebelumnya saya elap dulu pakai kapas basah.

Lama-lama, pesanan gambar makin sedikit, dan mulai banyak yang menanyakan kesediaan saya menggarap ilustrasi sekaligus layout buku. Akhirnya, saya beralih ke usaha setting dan tata letak buku.

Memasuki akhir 1980-an, urusan meng-edit dan mencetak foto lebih cocok untuk menjaga kelangsungan usaha. Maka saya mengalihkan usaha jadi tempat cetak foto; namanya Pandu Photo. Saat itu, saya membeli mesin Fuji, termasuk salah satu yang paling canggih di Jakarta saat itu.

Awal 2000-an, perkembangan teknologi foto digital membuat saya harus berani berhenti; saya pikir, pertumbuhannya terlalu cepat dan berat dari sisi bisnis. Pas juga anak-anak saya sudah bekerja semua, jadi saya pikir sudah lah…

Maka saya pun berbelok ke minat lain saya, pengobatan alternatif Prana. Saya mendapatkan lisensi sebagai penyembuh dan pelatih dari Filipina, maka saya coba populerkan di Indonesia.

Facebook saya gunakan untuk mempromosikan tentang penyembuhan Prana. Blog juga begitu, bisa dilihat di pranaindonesia.wordpress.com.

Bagi saya, tidak ada yang terasa paling istimewa. Saya hanya menjalani hidup saja. Seperti soal Khong Guan, ya biasa saja, memang itu pekerjaan saya, ya saya kerjakan, lalu dibayar, habis itu ya sudah… Lupakan.

Yang terpenting adalah mencintai apa yang kita kerjakan. Nggak usah mikirin uang. Kalau kita senang, seberat dan selelah apapun kita akan menikmati; lalu rezeki akan datang dengan caranya sendiri.

Saya ini nggak lulus kuliah, tapi bisa jadi dosen. Yang terpenting adalah pengalaman. (Bernardus Prasodjo sempat mengajar graphic design, typography, dan reproduksi warna digital di LPKT Gramedia -red)

Saya senang lihat meme tentang ilustrasi Khong Guan, lucu! Mungkin, kalau saya masih muda, saya akan melakukan hal yang sama, ha-ha-ha!


( Sumber : http://boomee.co/2013/11/bernardus-prasodjo-khong-guan )



No comments:

Post a Comment